KETERKAITAN LEMBAR KERJA SISWA BERBASIS DISCOVERY LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN GENERIK SAINS DAN KEMANDIRIAN SISWA KELAS V SD
Abstrak
Kehidupan di abad
ke 21 menuntut berbagai keterampilan yang harus dikuasai seseorang, sehingga
diharapkan pendidikan dapat mempersiapkan siswa untuk menguasai berbagai macam
keterampilan. Keterampilan tersebut sangat berkaitan dengan empat pilar
kehidupan yang mencakup learning to know,
learning to do, learning to be dan learning to live together. Empat pilar
tersebut mengandung keterempilan khusus yang harus dikembangkan dalam kegiatan
belajar seperti keterampilan berkomuniasi, berpikir kritis dan mampu memecahkan
masalah.. Artikel ini bertujuan
untuk mengembangkan LKS
yang berbasis discovery learning
untuk meningkatkan keterampilan generik
sains dan mandiri agar siswa dapat secara
mandiri meningkatkan kemampuan pemahaman konsep dan pemecahan masalah. Lembar
Kerja Siswa adalah salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan oleh guru
sebagai fasilitator dalam kegiatan pembelajaran. LKS yang disusun dapat
dirancang dan dikembangkan sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai. Model pembelajaran
discovery learning adalah sebagai
proses pembelajaran yang terjadi ketika siswa tidak disajikan informasi secara
langsung tetapi siswa dituntut untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai
informasi tersebut secara mandiri. Keterampilan
generik sains adalah keterampilan
yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai konsep dan menyelesaikan
berbagai masalah sains. Hasil yang diharapkan dari LKS berbasis Discovery Learning ini, dapat
meningkatkan keterampilan generik sains dan kemandirian siswa.
Kata kunci: Discovery learning, generik
sains, Keterampilan, LKS
Abstract
Life in the 21st
century requires a variety of skills that must be mastered by someone, so that
education is expected to prepare students to master a variety of skills. These
skills are closely related to the four pillars of life that include learning to
know, learning to do, learning to be and learning to live together. These four
pillars contain special skills that must be developed in learning activities
such as communication skills, critical thinking and problem solving. This
article aims to develop worksheet based discovery learning to improve generic
science and independent skills so students can independently improve their
conceptual understanding skills and problem solving. Student Worksheet is one
of the learning resources that can be developed by the teacher as a facilitator
in learning activities. The compiled LKS can be designed and developed
according to the competencies to be achieved. Discovery learning model is a
learning process that occurs when students are not presented with information directly
but students are required to organize understanding of the information
independently. Generic science skills are skills that can be used to learn
various concepts and solve various scientific problems. Expected results from
this Discovery Learning-based worksheet, can improve generic science skills and
student independence.
Key words: Discovery Learning, generic science, skills,
worksheets
Pendahuluan
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam
(IPA) pada muatan kurikulum 2013 adalah pembelajaran yang memiliki peranan
penting dalam mengembangkan keseluruhan aspek dari tingkat kemampuan siswa pada
proses pembelajaran, hal ini dikarenakan IPA merupakan bagian dari mata
pelajaran yang dikembangkan berdasarkan pencapaian kepada tiga aspek yaitu
pengetahuan, sikap dan keterampilan, sehingga dengan adanya proses pengembangan
kepada ketiga aspek tersebut IPA memiliki peranan yang sangat penting terutama
dalam mengembangkan kemampuan, sikap, dan keterampilan ilmiah siswa.
Menurut kajian dari Panitia
Sertifikasi Guru (2011:111) dalam Ni Kadek Desi Aristini (2017) mengatakan
bahwa proses pembelajaran IPA menekankan pada pemberian pengalaman langsung
untuk mengembangkan kompetensi agar menjelajahi dan memahami alam sekitar
secara ilmiah. Pemdidikan IPA diarahkan untuk inkuiri dan berbuat, sehingga
dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang
alam sekitar. Mengacu kepada pendapat tersebut, maka tujuan pembelajaran IPA di
SD adalah untuk memberikan pengetahuan mengenai konsep materi IPA, meningkatkan
sikap ilmiah, mengembangkan keterampilan proses, keterampilan generik sains,
melalui konsep pengamatan dan penemuan, serta memberikan kesempatan kepada
siswa untuk melakukan proses pembelajaran yang aktif dan kreatif dengan
pengalaman secara langsung etrhadap pemahaman materi pembelajaran.
Salah
satu upaya untuk mengembangkan kemampuan siswa dalam memahami materi IPA yaitu
dengan mengembangkan Lembar Kerja Siswa atau LKS. LKS merupakan
lembaran-lembaran yang berisi tugas yang harus dikerjakan
oleh siswa. Selain itu LKS berisikan petunjuk, tugas,
dan latihan yang terkait
dengan materi yang dipelajari sehingga
siswa akan mampu mengingat suatu konsep lebih lama
karena konsep tersebut diperolehnya
melalui keterlibatan mental atau
berpikir yang tinggi. LKS dapat
digunakan untuk
mengembangkan keterampilan generik sains, mengembangkan sikap
ilmiah, agar siswa memahami konsep-konsep sains secara mandiri, membangkitkan
minat siswa terhadap alam sekitarnya,
dan juga dapat
memudahkan guru memantau keberhasilan
siswa untuk mencapai sasaran
pembelajaran.
Menurut
Hamalik (Takdir, 2012:29) dalam Bekti Yuni Maharani (2017)
mengatakan bahwa Model Pembelajaran Discovery
Learning merupakan suatu model untuk mengembangkan cara
belajar siswa aktif
dengan menemukan sendiri,
menyelidiki sendiri, maka hasil yang diperoleh akan tahan lama dalam
ingatan tidak akan mudah dilupakan
siswa. Melalui belajar
penemuan, siswa juga
bisa belajar berfikir
analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah yang dihadapi. Disini siswa akan merasa
tertantang bagaimana cara untuk mengetahui proses percobaan siswa merasa
penasaran atau tertarik. Hosnan
(2014) dalam Septiani Wahyu Tumurun (2016) discovery learning adalah
suatu model untuk mengembangkan cara
belajar aktif dengan
menemukan sendiri, menyelidiki
sendiri. Melalui belajar penemuan, siswa juga bisa belajar berpikir
analisis dan mencoba memecahkan sendiri masalah
yang dihadapi. Dengan menerapkan model pembelajaran discovery learning siswa dapat
meningkatkan kemampuan keterampilan generik sains dan kemandirian siswa agar
dapat mempelajari berbagai konsep sehingga dapat menyelesaikan berbagai masalah
sains.
Dalam
suasana belajar-mengajar di lapangan dalam lingkungan Sekolah Dasar sering kita
jumpai beberapa masalah. Para siswa memiliki sejumlah pengetahuan, namun banyak
pengetahuan itu diterima dari guru sebagai salah sumber informasi. Akibatnya, siswa
masih kurang terlibat aktif
dalam proses pembelajaran,
karena . Hal ini menyebabkan pembelajaran kurang bermakna
bagi siswa karena
tidak mengalami dan
menemukan sendiri.
Hasil studi Total
Factor Productivity
(TFP) sebagai ukuran untuk
mengetahui peran sains
dan teknologi sebagai sumber
pertumbuhan ekonomi tercatat bahwa TFP pada tahun 2007
hanya sebesar 1,38
persen. Selain itu, Growth Competitive
Index (GCI) dalam The
Global Competitiveness Report 2006
menempatkan Indonesia pada peringkat
54 dari 55
negara, terendah di ASEAN
(Wahyuni, 2009). Hal tersebut
menunjukkan bahwa kemampuan sains
dan teknologi siswa Indonesia masih tergolong
rendah, siswa terbiasa menerima informasi
dari guru selama proses
pembelajaran sehingga belum terbiasa
menggunakan keterampilan generik sains
dalam mengekplorasi
informasi yang dipelajari.
Hasil yang diharapkan dari LKS berbasis Discovery Learning ini, dapat meningkatkan keterampilan generik sains dan kemandirian siswa, sehingga siswa mampu untuk mengorganisasikan pemahaman mengenai informasi secara mandiri, mempelajari berbagai konsep dan menyelesaikan berbagai masalah sains.
Metode Penelitian
Penelitian ini
menggunakan kajian atau studi literatur. Studi literatur merupakan
metode yang pengumpulan data dengan mengumpulkan sejumlah buku buku,
artikel yang berkaitan dengan masalah dan tujuan penelitian. Teknik ini
dilakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan berbagai teori-teori yang relevan
dengan permasalahan yang sedang dihadapi/diteliti sebagai bahan rujukan dalam
pembahasan hasil penelitian.
Hasil
dan Diskusi
1) LKS (Lembar Kerja Siswa)
Menurut
(Depdiknas, 2008;13) dalam Indra Kusuma Wardani (2018) LKS merupakan salah satu
sumber belajar yang dapat dikembangkan oleh guru sebagai fasilitator dalam
kegiatan pembelajaran. LKS yang disusun dapat dirancang dan dikembangkan sesuai
dengan kondisi dan situasi kegiatan pembelajaran yang akan dihadapi.
Selain itu bentuk
soal yang membosankan juga
dapat mengurangi keaktifan siswa dalam
proses pembelajaran. LKS
dapat mengarahkan siswa untuk
menemukan konsep-konsep melalui
aktivitasnya sendiri atau
dalam kelompok kerja. (LKS)
merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dikembangkan oleh guru sebagai
fasilitator dalam kegiatan pembelajaran LKS juga merupakan salah satu bahan
ajar bagi siswa dan guru untuk memepermudah proses pembelajaran. LKS menjadi
sumber belajar tergantung pada kegiatan pembelajaran yang dirancang. LKS
merupakan jenis hand out yang dimaksudkan untuk membantu siswa belajar secara
terarah.
Menurut
Hamalik (2016) dalam Indra Kusuma Wardani (2018) pemilihan dan penggunaan LKS
yang tepat akan
membuat siswa lebih aktif
dan berpartisipasi dalam pembelajaran serta
memberikan kesan penglihatan yang
lebih jelas bagi
siswa sehingga materi pelajaran
lebih mudah diingat dan dipahami.
Berkaitan dengan keterampilan generik
sains, penggunaan LKS yang
sesuai akan memberikan pengalaman langsung kepada siswa
saat proses pembelajaran sehingga pembelajaran
menjadi bermakna sekaligus juga
melatih keterampilan generik sains siswa
2) Model Pembelajaran Discovery Learning
Discovery learning
merupakan metode memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif
untuk akhirnya sampai kepada suatu
kesimpulan. Discovery learning adalah strategi pembelajaran yang cenderung
meminta siswa untuk melakukan observasi, eksperimen, atau tindakan ilmiah
hingga mendapatkan kesimpulan dari hasil tindakan ilmiah tersebut (Saifuddin,
2014) dalam Firosalia Kristin (2016). Melalui model ini siswa diajak untuk
menemukan sendiri apa yang dipelajari kemudian mengkonstruk pengetahuan itu
dengan memahami maknanya. Melalui model
ini guru hanya sebagai fasilitator. Ciri utama dari model discovery learning adalah:
1.
Mengeksplorasi dan
memecahkan masalah untuk menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasi
pengetahuan.
2.
Berpusat pada siswa.
3.
Kegiatan untuk
menggabungkan pengetahuan baru dan pengetahuan yang sudah ada
Model
discovery learning membiarkan
siswa-siswa mengikuti minat mereka sendiri untuk mencapai kompeten dan
kepuasan dari keingintahuan mereka. Guru
sebaiknya mendorong siswa untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka sendiri
daripada mengajar mereka dengan jawabanjawaban guru. Menurut Bruner (Wicaksono, dkk, 2015: 190)
dalam Firosalia Kristin (2016) “Discovery
learning bermanfaat dalam
peningkatan potensi intelektual siswa, perpindahan dari pemberian reward
ekstrinsik ke intrinsik, pembelajaran menyeluruh melalui proses menemukan dan
alat untuk melatih memori”.
3) Keterampilan Generik Sains
Sains berasal
dari natural science atau science
saja yang sering
disebut dengan Ilmu Pengetahuan
Alam (IPA). Sains
meliputi Kimia, Biologi,
Fisika, dan Astronomi. Belajar sains
sarat akan kegiatan
berpikir sehingga pembelajaran
sains perlu diubah modusnya agar
dapat membekali setiap
siswa dengan keterampilan
berpikir dari mempelajari sains
menjadi berpikir melalui
sains. Oleh sebab
itu, diharapkan siswa memiliki kemampuan
berpikir dan bertindak
berdasarkan pengetahuan sains
yang dimilikinya yang disebut dengan keterampilan generik sains. Jadi, pembelajaran dengan
keterampilan generik merupakan
pembelajaran yang mengajak
siswa berpikir melalui sains
dalam kehidupannya (Liliasari, 2007: 13) dalam Yuli Wahyuningsih (2019)
Keterampilan generik sains merupakan
keterampilan yang dapat digunakan untuk mempelajari berbagai
konsep-konsep serta menyelesaikan
berbagai masalah sains. Keterampilan generik sains merupakan strategi
kognitif yang berkaitan dengan aspek
kognitif, afektif maupun
psikomotorik dalam bidang
sains dan dapat dipelajari oleh
peserta didik Sandy (2016) dalam I Komang Wisnu Budi Wijaya (2019).
Menurut Agustina dkk
(2016) dalam I Komang Wisnu Budi
Wijaya (2019) keterampilan generik
sains penting bagi
siswa karena keterampilan
ini sangat dibutuhkan
dalam mengembangkan karir sesuai
dengan bidang masing-masing. Keterampilan
generik sains tidak diperoleh
secara tiba-tiba melainkan harus dilatihkan agar terus meningkat. Menurut Wahyudi
dan Nurhayati (2014) dalam Eki Yuliyanti (2016) manfaat keterampilan generik
sains dalam proses pembelajaran sebagai berikut :
1.
Membantu guru
dalam menganalisis hal
yang harus diperbaiki
dan ditingkatkan dalam belajar
serta membantu siswa dalam cara belajar.
2.
Dapat mempercepat proses
pembelajaran.
3.
Siswa dapat
mengatur kecepatan belajarnya
dan guru dapat
mengatur kecepatan belajar
masing-masing siswa.
4.
Dapat meminimalisir
miskonsepsi siswa.
Dalam proses
pengembangan keterampilan generik
sains, peran guru
tidak dapat diabaikan. Peran
guru dalam pengembangan
keterampilan generik sains menurut
Indrawati, 2012 dalam Tin Rosidah (2017) sebagai berikut:
1. Sebagai motivator.
Guru harus mampu
memberikan motivasi kepada
siswa agar memiliki semangat
dalam mengembangkan keterampilan generik sains.
2. Sebagai
pembimbing. Guru hendaknya membimbing siswa dalam mengembangkan keterampilan
generik sains. Proses bimbingan ini sangat penting mengingat siswa sekolah
dasar lebih senang belajar dengan dibimbing.
3. Sebagai perancang
pembelajaran. Guru diharapkan
mampu merancang pembelajaran IPA
di sekolah dasar
yang mampu mengembangkan
keterampilan generik sains.
4. Sebagai evaluator.
Guru harus mampu
mengevaluasi ketercapaian keterampilan generik sains siswa
4) Keterkaitan LKS dengan
Discovery Learning, Keterampilan Generik Sains dan Kemandirian Siswa
Model
Pembelajaran Discovery Learning mengajak
siswa untuk dapat memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui proses intuitif
untuk akhirnya sampai pada suatu kesimpulan. Sesuai dengan keterampilan generik
sains mengajak siswa
untuk dapat berpikir
melalui sains dan memecahkan
permasalahan dalam sains. Langkah-langkah model pembelajaran discovery learning Menurut Syah (2004) dalam
Gina Rosarina (2016) meliputi
(1) stimulasi atau pemberian rangsang, (2) identifikasi masalah), (3)
mengumpulkan data, (4) mengolah data, (5) pembuktian dan (6) menyimpulkan.
Ketika proses pembelajaran IPA menggunakan model discovery learning siswa diharapkan mampu untuk memahami konsep
kemudian mampu memahami permasalahan sehingga siswa dapat menemukan solusi atau
dapat memecahkan permasalahan. Sehingga siswa secara mandiri mampu menemukan
permasalahan dan memecahkan permasalahan tersebut.
Lembar
Kerja Siswa yang berisi rangkuman materi dan macam-macam soal yang didalamnya
siswa harus memahami konsep materi, menemukan sesuatu hal yang baru sehingga
dapat menarik kesimpulan dari materi tersebut. Melalui LKS yang berbasis Discovery Learning ini siswa dapat
memecahkan permasalahan sains dengan siswa menemukan sendiri apa yang
dipelajari (penemuan) kemudian siswa dapat mengaplikasikan penemuan
tersebut sesuai dengan konsep sehingga
dapat memahami maknanya sehingga siswa dapat menarik kesimpulan dan mampu untuk
memecahkan permasalahan sains yang ada di LKS. Kemampuan siswa dapat
memecahakan permasalahan sains tersebut berkaitan dengan keterampilan generik
sains.
Menurut
Brotosiswoyo (2001) dalam I Komang Wisnu Budi Wijaya (2016), macam keterampilan generik sains yang dapat
dilatihkan kepada siswa ada 6, yaitu (1) membangun konsep, (2) pengamatan
langsung dan pengamatan tidak langsung, (3) bahasa simbolik, (4) Hubungan sebab
akibat, (5) kerangka logika dan (6) Inferensi logika.
Pada
keterampilan generik sains siswa harus dapat mempelajari berbagai
konsep-konsep sains untuk menyelesaikan
berbagai masalah sains secara mandiri, sehingga siswa dalam
hal ini harus dapat memecahkan masalah sains yang ada di LKS secara mandiri dan
guru hanya berperan sebagai fasilitator.
Tabel 1 Keterkaitan Model
Discovery Learning dengan Keterampilan Generik Sains dan Kemandirian
|
Langkah-
Langkah Model Discovery Learning |
Keterampilan
Generik Sains |
Kemandirian |
|
Stimulus (Stimulation) |
Membangun Konsep |
Membangun konsep Siswa dihadapkan
pada sesuatu yang menimbulkan kebi-ngungan dan timbul keinginan untuk
menye-lidiki dan pengarahan untuk memecahkan masa-lah. |
|
Identifikasi masalah (Problem
Statemen) |
Pengamatan
langsung dan pengamatan tidak langsung |
Siswa
mengidentifikasi masalah-masalah yang relevan dengan bahan pelajaran,
kemudian salah satunya dirumuskan dalam bentuk hipotesis. |
|
Mengumpulkan Data (Data Collection) |
Bahasa
simbolik |
Siswa
diberikan kesempat-an untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relevan,
membaca literatur, wawancara. |
|
Mengolah Data (Data
Processing) |
Hubungan sebab
akibat |
Siswa mengolah
informasi yang diperoleh dan mendapatkan
pengetahuan baru. |
|
Pembuktian (Verification) |
Kerangka
logika |
Siswa
melakukan pemeriksaan secara cermat untuk pembuktian benar tidaknya hipotesis. |
|
Menyimpulkan (Generalization) |
Inferensi Logika |
Siswa dan guru
menyimpulkan secara bersama-sama dan dapat dijadikan sebagai pedoman. |
Simpulan
Lembar Kerja Siswa yang berisi
rangkuman materi dan macam-macam soal yang didalamnya siswa harus memahami
konsep materi, menemukan sesuatu hal yang baru sehingga dapat menarik
kesimpulan dari materi tersebut. Melalui LKS yang berbasis Discovery Learning ini siswa dapat memecahkan permasalahan sains
dengan siswa menemukan sendiri apa yang dipelajari (penemuan) kemudian siswa
dapat mengaplikasikan penemuan tersebut
sesuai dengan konsep sehingga dapat memahami maknanya dan siswa dapat
menarik kesimpulan sehingga mampu untuk memecahkan permasalahan sains. Keterampilan generik
sains merupakan keterampilan
yang mengajak peserta
didik untuk berpikir melalui
sains. Pembelajaran IPA
SD terdapat empat
aspek yaitu produk, proses, aplikasi, dan sikap. Aspek
pembelajaran IPA SD akan lebih mudah diperoleh jika peserta didik
menguasai keterampilan generik
sains, siswa lebih mandiri dalam proses pembelajaran sehingga dapat
mengembangkan keterampilan tersebut dalam mengerjakan LKS.
Saran
Berdasarkan
kajian literatur yang dilakukan, menjelaskan bahwa siswa harus berperan aktif
ketika proses pembelajaran berlangsung, sehingga guru harus menerapkan model
pembelajaran yang bervariasi seperti salah satunya model pembelajaran discovery
learning. Ketika pembelajaran IPA menerapkan model discovery learning maka
siswa akan berperan aktif untuk menemukan konsep, menemukan permasalahan
sehingga siswa dapat memecahkan masalah tersebut menggunakan keterampilan
generik sains yang proses pembelajaran guru bertindak sebagai fasilitator
sehingga siswa muncul sikap kemandirian dalam memecahkan masalah sains.
Daftar Pustaka
Bekti Yuni Maharani. 2017. Penerapan Model Pembelajaran
Discovery Learning Berbantuan Benda
Konkret Untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPA. Vol 1, No 5. Hlm 551-552.
Eki Yuliyanti. 2016. Peningkatan Keterampilan Generik
Sains Dan Penguasaan Konsep Melalui Laboratorium Virtual Bebasis Inkuiri. Vol
4, No 2. Hlm 78-79.
Firosalia Kristin. 2016. Analisis Model Pembelajaran Discovery Learning Dalam Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa SD. Vol 2, No 1. Hlm 91-93.
Gina Rosarina. 2016. Penerapan Model
Discovery Learning Untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Siswa Pada Materi Perubahan Wujud Benda. Vol 1, No 1. Hlm.
373-374.
I Komang Wisnu Budi Wijaya. 2019. Mengembangkan
Keterampilan Generik Sains Pada Siswa Sekolah Dasar Untuk Menyongsong Era
Revolusi Industri 4.0. Hlm 82-84
Indra Kusuma Wardani. 2018. Pengembangan Lembar Kerja
Siswa (LKS) Saintifik Berbasis Keterampilan Berpikir Kritis untuk Siswa Kelas V
SD/MI di Kabupaten Jombang. Vol 2, No 1. Hlm 42.
Ni Kadek Desi
Aristini. 2017. Pengembangan Lembar
Kerja Siswa Berbasis Inkuiri Untuk Pemahaman Konsep IPA Siswa Kelas V. Vol 5,
No 2. Hlm 2-4.
Septiani Wahyu Tumurun. 2016. Pengaruh Model
Pembelajaran Discovery Learning Terhadap Keterampilan Berpikir
Kreatif Siswa Pada
Materi Sifat-Sifat Cahaya Vol 1,
No 1. Hlm 102-103.
Tin Rosidah. 2017. Eksplorasi Keterampilan Generik
Sains Siswa Pada Mata Pelajaran Kimia Di SMA Negeri 9 Semarang. Vol 5, No 2.
Hlm 131-132.
Yuli Wahyuningsih. 2019. Hots (High Order Thinking Skills) Dan Kaitannya Dengan Keterampilan
Generik Sains Dalam Pembelajaran IPA SD. Hlm 230-231.
Komentar
Posting Komentar